Showing posts with label Education. Show all posts
A Parents Guide to Purposeful Play from Two to Six [written by Lesley Britton]
Sunday, June 22, 2008
Translated by Ria Heraldi
Permainan ini dibagi menjadi 7 kategori, sesuai 7 area dari metode Montesorri. Angka di dalam kurung adalah acuan umur yang cocok bagi aktivitas tersebut.
Kategori Language and Reading
Kategori Sensory Development
Kategori Mathematics
Kategori Science and Nature
Kategori History
Kategori Geografi
Kategori Arts and Craft
Maria Montesorri percaya bahwa usia 0-6 dari hidup anak adalah masa yang sangat penting karena di saat itu anak mempunyai absorbent mind, otak yang siap belajar dan menyerap ilmu.
[...]
Permainan ini dibagi menjadi 7 kategori, sesuai 7 area dari metode Montesorri. Angka di dalam kurung adalah acuan umur yang cocok bagi aktivitas tersebut.
Kategori Language and Reading
- The Silence Game (2 - 6)
Kita dan anak berusaha diam, sediam-diamnya (jangan paksakan anak untuk diam, dia harus menerima bahwa ini adalah permainan dan bukan suruhan untuk diam) lalu coba dengarkan suara-suara yang ada. Setelah satu menit tanya (dengan berbisik) apa saja yang dia dengar.Game ini melatih self control dan observation skill. - The Object Game (3-4)
Sediakan sekelompok benda yang dimulai dengan bunyi yang sama. Contoh : bola, buku, balon, boneka. Tunjuk pada benda-benda tersebut satu per satu sambil mengatakannya, pastikan anak menangkap mereka dimulai dengan bunyi b. Perkenalkan kelompok kedua, contoh : pen, pensil, penggaris, penghapus dengan cara yang sama. Lalu suruh dia ambil satu barang yang dimulai dengan b, lalu dengan p dst. Variasi : ambil pensil dan tanya: apakah ini pensil? Game ini melatih mengenal begining sound. - Shapes (4-5)
Gunting kertas karton (atau bekas kartu yang cukup tebal) menjadi berbagai bentuk (lingkaran, kotak, segitiga dll.) Perkenalkan bentuk, dan suruh anak menjiplak bentuk itu ke atas kertas putih (suruh anak meletakan karton berbentuk di atas kertas putih dan menelusuri tepinya dengan pensil.Game ini melatih tangan mengontrol alat tulis. - Words around the House (5-6)
Buat label untuk benda-benda di rumah dengan karton putih dan spidol (label jangan terlalu kecil) seperti : kursi, sofa, lemari es, jendela, meja dll. Suruh anak berkeliling rumah untuk meletakkan label itu pada masing-masing benda.Game ini melatih membaca.
Kategori Sensory Development
- Mystery Bag (2-3)
Masukan benda ke dalam kantong (sarung bantal cukup baik) dan minta anak untuk menebak benda apa itu dengan memasukkan tangannya ke dalam kantong (tanpa boleh melihat ke dalam kantong). Game ini melatih indera peraba. - Sorting by Sound (3-4)
Kumpulkan 10 botol bekas vitamin (atau kosmetik dll) yang sama persis. Cari 5 jenis benda kecil (contoh : paper klip, kerang, kelereng, buletan kapas, potongan kertas. 5 benda ini akan dimasukan dalam botol, jadi cari yang beragam bunyinya jika botol dikocok. Ada kelereng yang ribut, ada kapas yang hampir tidak berbunyi).
Masukan ke dalam botol, 2 botol-2 botol. (ada 2 botol yang masing masing berisi 1 paper klip, ada 2 botol yang masing masing berisi 2 kelereng dst).
Suruh anak mencari pasangan botol dengan mengocok-ngocok botol tersebut.
Game ini melatih indera pendengaran. - Memos (5-6)
Ini game memory card biasa dimana kartu di balik di atas meja, lalu anak membuka 2 kartu. Jika sama boleh diambil, jika tidak harus dibalik kembali.
Game ini melatih memory.
Kategori Mathematics
- Sorting buttons (2-3)
Sediakan kancing dalam berbagai bentuk dan ukuran dan wadah dimana anak bisa memasukkan kancing yang sama ke dalam 1 wadah. Tutup mata anak dan suruh menyortir kancing itu.
Game ini melatih indera peraba. - Flat shapes (3-4)
Ambil beberapa karton (atau bekas kartu) yang ukurannya sama. Gambar bentuk geometris di tengahnya (lingkaran, segitiga dll) lalu potong dengan silet/cutter. Jadi kita punya bentuk geometris dan bingkainya (kartu yang tengahnya ada lubang berbentuk segitiga, lingkaran dll). Minta anak memasangkan bentuk ke bingkainya.
Game ini melatih mengenal bentuk dengan melibatkan indera peraba (bukan hanya indera penglihatan)
Kategori Science and Nature
- Cooking (2-3)
Ajak anak dalam aktivitas - aktivitas seperti mencampur ini itu. Setelah biasa, bisa diajak membuat kue kering dll.
Banyak yang bisa dipelajari dari keterlibatan anak di dapur seperti belajar tentang benda apa yang bisa larut dalam air, bagaimana benda berubah karena dingin atau panas. - Floating and Sinking (3-4)
Bisa dilaksanakan di dapur : mana buah/sayur yang mengapung, mana yang tenggelam. Atau bisa dilaksanakan di kamar mandi : mana benda yang mengapung, mana yang tenggelam. - Food Groups Game (3-6)
Sediakan kertas besar dan gambar dari berbagai makanan (bisa digunting dari majalah-majalah). Bagi kertas besar menjadi 7 bagian : buah&sayuran, daging, susu, carbohidrat, kacang-kacangan, lemak, gula. Minta anak menempelkan gambar makanan di bidang yang tepat.
Game ini untuk memperkenalkan kebiasaan makan yang baik dan supaya anak aware atas apa yang dimakannya sehari-hari.
Kategori History
- Timeline of your child's day (3-4)
Sediakan kertas yang panjang dan beri garis dengan angka (jam) dari bangun sampai tidur. Sediakan foto anak sedang makan, tidur, mandi dll. Sama-sama menaruh foto itu di tempat yang benar. - Timeline of your child's life (4-5)
Sama tapi foto diganti dengan foto ulangtahun, perayaan natal/lebaran dan lain-lain
Dua game ini membuat anak peka terhadap jalannya waktu dan membuat dia bisa "melihat" konsep waktu.
Kategori Geografi
- Plan of the house (3-4)
Sediakan kertas yang besar dan gunting gambar-gambar perabot dari majalah seperti ranjang, sofa, lemari es dll. Buat peta rumah anda dengan kertas dan guntingan perabot tadi.
Game ini adalah awal dari pengenalan peta. - Where do I live? (4-5)
Gambar-gambar tentang rumah yang berbeda (rumah panggung, igloo, rumah hewan, sarang burung dll). Pasangkan dengan si empunya rumah.
Kategori Arts and Craft
- Printing Hands and feet (2-3)
Sediakan kertas besar, cat air. Biarkan anak membuat cap tangan dan kakinya pada kertas. Kertas bisa dijadikan kertas kado, atau bisa buat kartu dengan cara yang sama.
Game ini mengembangkan sense of design dan kreativitas. - Tearing, cutting and Colage (3-5)
Sediakan kertas kado, kertas tissue, bekas kartu, majalah, ini itu. Suruh anak robek atau gunting sesukanya dan tempel di atas kertas putih besar (bekas kalender).
Aktivitas ini untuk melatih kreativitas dan merasakan tekstur kertas yang berbeda-beda (melatih indera peraba). - Sewing (5-6)
Anak-anak boleh mulai menjahit di usia ke 5. (Jika anak anda menerima pelatihan Montessori di sekolahnya, ia akan tahu cara memegang jarum dan tidak usah takut tertusuk. Jika tidak, mungkin perlu berhati-hati atau gunakan jarum yang besar dan tidak tajam pada kain yang berserat besar).
Sediakan kain dan berbagai jenis benang. Biarkan mereka menjahit.
Ini untuk melatih fine motor skill.
Maria Montesorri percaya bahwa usia 0-6 dari hidup anak adalah masa yang sangat penting karena di saat itu anak mempunyai absorbent mind, otak yang siap belajar dan menyerap ilmu.
Posted in Education, Montessori Curriculum, Montessori Method by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this postHow The Children Learn
Friday, May 30, 2008
The use of the materials is based on the young child's unique aptitude for learning which Dr. Montessori identified as the "absorbent mind". In her writings, she frequently compared the young mind to sponge.
[...]
Posted in Education, Montessori Method by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this postPrinsip Metode Pendidikan Montessori
Author: Uwes Anis Chaeruman
Iseng-iseng saya menerjemahkan summary metode pendidikan montessori. Sebaiknya berbagi dengan Anda. Mudah-mudahan bermanfaat.
Setiap anak memiliki tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Faktor lingkungan serta perlakuan orang dewasa (pendidikan) hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan mereka. Oleh karena itu, Montessori percaya bahwa lingkungan haruslah merupakan tempat yang menyenangkan (loving area), tempat yang kondusif (nourishing) untuk membantu perkembangan, tempat dimana guru atau orang dewasa dapat mengobservasi perkembangan mereka dan membuat perubahan-perubahan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.
Dalam metode pendidikan Montessori ada beberapa aspek pendidikan yang lingkungan dan merupakan prinsip metode pendidikan Montessori. Diantaranya adalah konsep kebebasan, struktur dan urutan, realistiss dan kealamian, keindahan dan nuansa, serta prinsip alat permainan Montessori.
ASPEK 1: PENTINGNYA KEBEBASAN (CONCEPT OF FREEDOM)
Metode pendidikan Montessori menekankan pentingnya kebebasan. Mengapa? Karena hanya dalam nuansa atau iklim yang bebaslah anaka dapat menunjukkan dirinya kepada kita. Karena kita bertanggung jawab dalam membantu perkembangan fisik mereka, oleh karena itu kita harus menyediakan ruang yang bebas dan terbuka. Alasan kedua, kunci terjadinya perkembangan yang optimal adalah kebebasan. Montessori mengatakan, “Real freedom …. Is a concequence of development”. Kebebasan sejati adalah suatu konsekuensi dari perkembangan. Montessori mengatakan, “Jika anak di hadapkan pada lingkungan yang tepat, dan memberikan peluang kepada mereka unuk secara bebas merespon secara individual terhadap lingkungan tersebut, maka pertumbuhan alami anak terbuka dalam kehidupan mereka”. (dalam David Gettman (1987), “Basic Montessori: Learning Activities for Under-Fives” (New York: St. Martin’ Press), hal 30.)
Oleh karena itu, perkembangan anak harus kita bantu dengan cara-cara sebagai berikut:
- Mereka harus dibantu memperoleh kemandirian melalui lingkungannya. Mereka harus diberikan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong kemandirian. Mereka tidak boleh dibantu orang lain untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya mereka sendiri dapat melakukan. Mereka harus diajarkan untuk mampu membantu dirinya sendiri seperti memasang kancing, membuka menutup retsleting, menyimpan sepatu dan lain-lain yang dapat membantu dirinya untuk menjadi mandiri. Semua alat bermain dan furniture harus memiliki ukuran yang sesuai dengan anak. Hal ini akan membuat mereka dapat mengendalikan alat bermain tersebut. Sehingga mereka akan merasa nyaman dan aman melakukan segala aktifitas yang mereka inginkan.
- Anak harus dibantu untuk mengembangkan kemauan (tekad dan daya juang) dengan cara melatih mereka mengkoordinasikan tindakannya untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu yang harus mereka capai.
- Anak harus dibantu mengembangkan disiplin dengan cara memberikan kesempatan/peluang kepada mereka untuk melakukan aktifitas konstruktif.
- Anak harus dibantu mengembangkan pemahaman mereka tentang baik dan buruk.
Montessori juga mengingatkan kita untuk memahami bahwa hanya tindakan yang bersifat destruktif yang harus kita batasi. Semua aktifitas lain yang konstruktif, apapun itu, dengan cara apapun mereka melakukannya, hendaknya kita perbolehkan dan kita amati dan arahkan. Secara lebih jauh Montessori menyebutkan beberapa hal yang harus kita batasi atau arahkan dalam membeirkan aktifitas kepada meraka antara lain sebgai berikut:
- Menghormati orang lain; anak bebas untuk melakukan aktifitas apa saja sejauh tidak melanggar/merampas hak orang lain dalam kelas;
- Menghormati barang mainan; anak kita dorong untuk dapat melakukan aktifitas dengan semua alat bermain sejauh mereka menggunakannya dengan cara yang benar. Mereka dapat menggunakan alat bermain apa saja sejauh tidak merusak barang tersebut atau benda lain disekitarnya. Adalah tugas kita sebagai guru untuk mengarahkan hal-hal seperti ini.
- Menghormati lingkungan; anak juga harus kita arahkan untuk dapat memperlakukan semua aspek dengan penuh kasih sayang, perhatian dan penghargaan. Mereka harus diarahkan memperlakukan teman lain dan guru dengan lembut, sopan dan penuh penghargaan.
- Menghargai/menghormati diri sendiri; mereka kita ajarkan untuk tidak hanya menghargai orang lain, benda lain tapi juga diri sendiri.
Kalau di atas membahas batasan yang sebaiknya tidak boleh terjadi dalam lingkungan bebas, maka kebebasan apa saja yang harus kita berikan kepada anak dalam lingkungan?
Montessori menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
- Kebebasan bergerak; anak diberi kebebasan untuk bergerak kemana saja baik di dalam maupun di luar ruangan.
- Kebebasan memilih; anak bebas untuk memilih aktifitasnya sendiri dalam kelas. Kebebasan memilih ini akan membantu mereka mengembangkan kebiasaan kerja dan meningkatkan konsentrasi. Konsekuensinya, kita harus menyediakan beragam aktifitas yang telah derancang dan disiapkan sedemikian rupa untk kebutuhan perkembangan mereka;
- Kebebasan berbicara; pendidikan montessore berbeda dengan pendidikan tradisional. Dalam pendidikan tradisional guru lebih dominan berbicara. Dalam pendidikan Montessori sebaliknya, anaka memperoleh kebebasan berbicara dengan siapa saja yang mereka mau. Bagi yang belum siap, tidak dipaksa, tapi diarahkan untuk bergabung dengan kelompok untuk saling berbagi. Anak tidak didorong untuk bersaing satu sama lain. Karenanya, keinginan alami mereka untuk membantu orang lain berkembang secara spontan. Dalam pendidikan Montessori anak-anak diarahkan untuk mengamati dan memahami aturan dasar kesopanan dengan tidak mengganggu orang lain.
- Kebebasan untuk tumbuh; dalam pendidikan Montessori anak memiliki kebebasan untuk tumbuh dan membangun kemampuan mental mereka dalam lingkungan yang dirancang. Semua benda atau alat bermain dalam kelas Montessori diranncang untuk membantu mereka tumbuh kembang secara alami.
- Bebas untuk menyayangi dan disayangi; anak memiliki hak untuk disayangi dan menyayangi tanpa pandang bulu (pilih kasih). Jika mereka merasa diperhatikan sama dengan yang lain, dimana guru tanpa ada pilih kasih, maka mereka akan menghargai orang lain dan lingkungannya dengan cara yang sama.
- Bebas dari bahaya; anak memiliki hak untuk tumbuh dari bahaya. Maksudnya, anak diberikan pengetahuan melalui pelatihan yang sistematis tentang keterampilan hidup seperti bagai mana membawa barang mainan dengan cara yang benar yang jika tidak maka akan membahayakan dirinya.
- Bebas dari persaingan; Agar tidak mengganggu kebebasan anak untuk memilih, maka tidak ada kompetisi, reward atau hukuman dalam pendidikan Montessori. Keberhasilan anak tidak dinilai menurut sudut pandang orang dewasa, seperti melalui nilai, atau perolehan tanda bintang. Motivasi instrinsik merekalah yang mendorong mereka untuk melakukan aktifitas terbaik mereka, bukan reward atau hukuman. Kepuasan mereka karena tela dapat melakukan sesuatu sudah cukup sebagai reward bagi mereka sendiri.
- Bebas dari tekanan; anak diberikan kebebasan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kecepatan dan perkembangan mereka sendiri. Mereka tidak diharuskan dapat mencapai sesuatu yang disamakan dengan orang lain.
Melalui kebebasan-kebebasan dalam kelas Montessori seperti dijelaskan di atas, maka anak akan memperoleh kesempatan-kesempatan unik terhadap tindakannya sendiri. Mereka akan menyadari segala konsekuensi atas apa yang ia lakukan baik terhadap dirinya maupun orang lain, mereka belajar membuktikan atau menguji dirinya terhadap batasan-batasan realistiss, mereka akan belajar tentang apa saja yang membuat ia atau orang lain merasa puas atau sebaliknya merasa kosong dan tidak puas atau kecewa. Peluang untuk mengembangkan pengetahuan diri (self-knowledge) inilah yang merupakan hasil penting dari kebebasan yang kita ciptakan dalam kelas Montessori.
ASPEK 2: STRUKTUR DAN KETERATURAN (STRUCTURE AND ORDER)
Struktur dan keteraturan alam semesta harus tercermin dalam lingkungan kelas Montessori. Dengan demikian anak akan menginternalisasinya dan akhirnya membangun mental dan inteligensinya sendiri terhadap lingkungan. Melalui keteraturan anak akan belajar untuk percaya pada lingkungan dan belajar untuk berinteraksi dengan lingkungan dengan cara yang positif. Hanya dalam lingkungan yang dirancang dengan tepat dan benar, anak dapat mengkategorisasikan persepsinya yang pada akhirnya nanti akan membentuk pemahaman mereka yang benar terhadap realistis dunia.
Melalui keteraturan, anak tahu kemana harus mencari barang mainan yang ia inginkan, misalnya. Oleh karena itu, kita harus merancang penempatan barang mainan sesuai dengan klasifikasi berdasarkan keteraturan tertentu. Sebagai contoh, alat bermain ditempatkan dalam rak yang rendah sehingga terjangkau anak, ditata dengan rapi dan teratur sesuai dengan kategori, begitu pula halnya dengan ruangan kelass tertata sedemikian rupa dengan penuh keteraturan. (John Chattin – McNichols (1998), The Montessori Controversy, (New York: Delmar Publiser Inc.), hal 51)
ASPEK 3: REALISTIS DAN ALAMI
Lingkungan pendidikan Montessori didasarkan atas prinsip realistis dan kealamian. Anak harus memiliki kesempatan untuk menginternalisasikan keterbatasan alam dan realistis supaya mereka terbebas dari sikap berangan-angan (fantasy) atau ilusi baik yang bersifat fisik maupun psikologis. Hanya dengan cara ini mereka mengembangkan disiplin diri dan keamanan yang dia perlukan untuk menggali dunia eksternal dan internal mereka dan untuk menjadikan mereka pengamat realistiss hidup yang aktif dan apresiatif. Alat bermain dan lingkungan dalam kelas Montessori didasarkan atas konsep realistis. Sebagai contoh, anak dihadapkan dengan telepon yang sebenarnya, gelas sebenarnya, setrika, pisau dan lain-lain. Semuanya adalah benda sebenarnya.
Menurut Montessori, ”Manusia adalah miliki alam, begitu pula khususnya bagi anak. Mereka membutuhkan gambaran dunia yang akan mereka hadapi kelak melalui alam. Semua hal yang dipelrukan untuk mengembangkan jiwa dan raga mereka adalah alam sebenarnya.” Jadi, dalam konsep pendidikan Montessori, segala sesuatunya harus dirancang sedemikian rupa agar sealami dan serealistis mungkin, baik lingkungan indoor mapun outdoor. Montessori percaya bahwa anak harus pertama kali dihadapkan dengan alam melalui perawatan terhadap tanaman dan binatang.
ASPEK 4: KEINDAHAN DAN NUANSA
Lingkungan Montessori harus sederhana. Semua yang ada didalamnya harus memiliki desain dan kualitas yang baik. Tema warna harus menunjukkan kegembiraan. Nuansa ruangan harus terkesan santai dan hangat sehingga mengundang anak untuk bebas berpartisipasi aktif.
ASPEK 5: ALAT BERMAIN MONTESSORI (MONTESSORI MATERIALS)
Yang dimaksud dengan Montessori Materials di sini adalah bukan semata-mata alat bermain. Tapi semua benda yang ada dalam lingkungan. Tujuan dari semua benda itu bukan bersifat eksternal untuk mengajar anak keterampilan. Tapi tujuan utamanya adalah bersifat internal yaitu membantu perkembangan fisik dan pembangunan diri anak. Montessori mengatakan, ”Hal penting pertama perkembangan anak adalah konsentrasi … Ia harus menemukan cara bagaimana berkonsentrasi, dan oleh karenanya mereka membutuhkan benda-benda yang dapat membuatnya berkonsentrasi… karena itulah pentingnya sekolah kita mendasarkan pada hal ini. Yaitu tempat dimana mereka dapat menemukan aktifitas yang memungkinkan mereka melakukan konsentrasi.”
Benda-benda atau alat-alat bermain harus membantu pembentukan internal anak. Oleh karenanya benda atau alat bermain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan internal anak. Artinya, benda-benda dan atau alat-alat bermain tersebut haris disajikan atau diberikan pada momen yang sesuai dengan perkembangan mereka. Montessori menyebutkan beberapa prinsip dalam penggunaan benda dan atau alat bermain dalam kelas Montessori sebagai berikut:
o Setiap benda atau alat bermain harus memiliki tujuan dan bermakna bagi anak;
o Setiap benda atau alat bermain harus harus menunjukkan perkembangan dari sederhana ke rumit dalam desain dan penggunaannya.
o Setiap benda atau alat bermain dirancang untuk menyiapkan anak secara tidak langsung untuk belajar ke depan.
o Setiap benda atau alat bermain dimulai dari expesi kongkrit dan secara bertahap mengarahkan mereka pada representasi yang lebih abstrak.
o Setiap benda atau alat bermain dirancang agar memungkinkan terjadinya auto-edukasi. Artinya kontrol kesalahan berada pada benda tersebut bukan pada guru. Kontrol kesalahan ini akan membimbing anak dalam menggunakan benda tersebut dan memungkinkan ia menyadari kesalahannya sendiri dan memperbaikinya.
KESIMPULAN
Ada beberapa aspek penting yang harus dipahami betul oleh guru atau pendidik dalam metode pendidikan Montessori. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:
o Konsep kebebasan; melalui kebebasan-kebebasan dalam kelas Montessori, maka anak akan memperoleh kesempatan-kesempatan unik terhadap tindakannya sendiri. Mereka akan menyadari segala konsekuensi atas apa yang ia lakukan baik terhadap dirinya maupun orang lain, mereka belajar membuktikan atau menguji dirinya terhadap batasan-batasan realistiss, mereka akan belajar tentang apa saja yang membuat ia atau orang lain merasa puas atau sebaliknya merasa kosong dan tidak puas atau kecewa. Peluang untuk mengembangkan pengetahuan diri (self-knowledge) inilah yang merupakan hasil penting dari kebebasan yang kita ciptakan dalam kelas Montessori.
o Struktur dan Keteraturan; hanya dalam lingkungan yang dirancang dengan tepat dan benar, yaitu terstruktur dan teratur, anak dapat mengkategorisasikan persepsinya yang pada akhirnya nanti akan membentuk pemahaman mereka yang benar terhadap realistis dunia.
o Realistis dan Alami; dalam konsep pendidikan Montessori, segala sesuatunya harus dirancang sedemikian rupa agar sealami dan serealistis mungkin, baik lingkungan indoor mapun outdoor. Dengan cara ini mereka mengembangkan disiplin diri dan keamanan yang dia perlukan untuk menggali dunia eksternal dan internal mereka dan untuk menjadikan mereka pengamat realistiss hidup yang aktif dan apresiatif.
o Keindahan dan Nuansa; unsur-unsur keindahan, keceriaan, baik secara fisik maupun non fisik dalam lingkungan kelas Montessor sangat penting untuk mengundang anak berpartisipasi aktif dengan bebas dan spontan.
o Benda atau Alat Bermain Montessori; harus membantu pembentukan internal anak. Oleh karenanya benda atau alat bermain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan internal anak. Artinya, benda-benda dan atau alat-alat bermain tersebut haris disajikan atau diberikan pada momen yang sesuai dengan perkembangan mereka.
Setiap anak memiliki tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan perkembangan umurnya. Faktor lingkungan serta perlakuan orang dewasa (pendidikan) hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan mereka. Oleh karena itu, Montessori percaya bahwa lingkungan haruslah merupakan tempat yang menyenangkan (loving area), tempat yang kondusif (nourishing) untuk membantu perkembangan, tempat dimana guru atau orang dewasa dapat mengobservasi perkembangan mereka dan membuat perubahan-perubahan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mereka.
Dalam metode pendidikan Montessori ada beberapa aspek pendidikan yang lingkungan dan merupakan prinsip metode pendidikan Montessori. Diantaranya adalah konsep kebebasan, struktur dan urutan, realistiss dan kealamian, keindahan dan nuansa, serta prinsip alat permainan Montessori.
ASPEK 1: PENTINGNYA KEBEBASAN (CONCEPT OF FREEDOM)
Metode pendidikan Montessori menekankan pentingnya kebebasan. Mengapa? Karena hanya dalam nuansa atau iklim yang bebaslah anaka dapat menunjukkan dirinya kepada kita. Karena kita bertanggung jawab dalam membantu perkembangan fisik mereka, oleh karena itu kita harus menyediakan ruang yang bebas dan terbuka. Alasan kedua, kunci terjadinya perkembangan yang optimal adalah kebebasan. Montessori mengatakan, “Real freedom …. Is a concequence of development”. Kebebasan sejati adalah suatu konsekuensi dari perkembangan. Montessori mengatakan, “Jika anak di hadapkan pada lingkungan yang tepat, dan memberikan peluang kepada mereka unuk secara bebas merespon secara individual terhadap lingkungan tersebut, maka pertumbuhan alami anak terbuka dalam kehidupan mereka”. (dalam David Gettman (1987), “Basic Montessori: Learning Activities for Under-Fives” (New York: St. Martin’ Press), hal 30.)
Oleh karena itu, perkembangan anak harus kita bantu dengan cara-cara sebagai berikut:
- Mereka harus dibantu memperoleh kemandirian melalui lingkungannya. Mereka harus diberikan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong kemandirian. Mereka tidak boleh dibantu orang lain untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya mereka sendiri dapat melakukan. Mereka harus diajarkan untuk mampu membantu dirinya sendiri seperti memasang kancing, membuka menutup retsleting, menyimpan sepatu dan lain-lain yang dapat membantu dirinya untuk menjadi mandiri. Semua alat bermain dan furniture harus memiliki ukuran yang sesuai dengan anak. Hal ini akan membuat mereka dapat mengendalikan alat bermain tersebut. Sehingga mereka akan merasa nyaman dan aman melakukan segala aktifitas yang mereka inginkan.
- Anak harus dibantu untuk mengembangkan kemauan (tekad dan daya juang) dengan cara melatih mereka mengkoordinasikan tindakannya untuk mencapai suatu tujuan yang tertentu yang harus mereka capai.
- Anak harus dibantu mengembangkan disiplin dengan cara memberikan kesempatan/peluang kepada mereka untuk melakukan aktifitas konstruktif.
- Anak harus dibantu mengembangkan pemahaman mereka tentang baik dan buruk.
Montessori juga mengingatkan kita untuk memahami bahwa hanya tindakan yang bersifat destruktif yang harus kita batasi. Semua aktifitas lain yang konstruktif, apapun itu, dengan cara apapun mereka melakukannya, hendaknya kita perbolehkan dan kita amati dan arahkan. Secara lebih jauh Montessori menyebutkan beberapa hal yang harus kita batasi atau arahkan dalam membeirkan aktifitas kepada meraka antara lain sebgai berikut:
- Menghormati orang lain; anak bebas untuk melakukan aktifitas apa saja sejauh tidak melanggar/merampas hak orang lain dalam kelas;
- Menghormati barang mainan; anak kita dorong untuk dapat melakukan aktifitas dengan semua alat bermain sejauh mereka menggunakannya dengan cara yang benar. Mereka dapat menggunakan alat bermain apa saja sejauh tidak merusak barang tersebut atau benda lain disekitarnya. Adalah tugas kita sebagai guru untuk mengarahkan hal-hal seperti ini.
- Menghormati lingkungan; anak juga harus kita arahkan untuk dapat memperlakukan semua aspek dengan penuh kasih sayang, perhatian dan penghargaan. Mereka harus diarahkan memperlakukan teman lain dan guru dengan lembut, sopan dan penuh penghargaan.
- Menghargai/menghormati diri sendiri; mereka kita ajarkan untuk tidak hanya menghargai orang lain, benda lain tapi juga diri sendiri.
Kalau di atas membahas batasan yang sebaiknya tidak boleh terjadi dalam lingkungan bebas, maka kebebasan apa saja yang harus kita berikan kepada anak dalam lingkungan?
Montessori menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
- Kebebasan bergerak; anak diberi kebebasan untuk bergerak kemana saja baik di dalam maupun di luar ruangan.
- Kebebasan memilih; anak bebas untuk memilih aktifitasnya sendiri dalam kelas. Kebebasan memilih ini akan membantu mereka mengembangkan kebiasaan kerja dan meningkatkan konsentrasi. Konsekuensinya, kita harus menyediakan beragam aktifitas yang telah derancang dan disiapkan sedemikian rupa untk kebutuhan perkembangan mereka;
- Kebebasan berbicara; pendidikan montessore berbeda dengan pendidikan tradisional. Dalam pendidikan tradisional guru lebih dominan berbicara. Dalam pendidikan Montessori sebaliknya, anaka memperoleh kebebasan berbicara dengan siapa saja yang mereka mau. Bagi yang belum siap, tidak dipaksa, tapi diarahkan untuk bergabung dengan kelompok untuk saling berbagi. Anak tidak didorong untuk bersaing satu sama lain. Karenanya, keinginan alami mereka untuk membantu orang lain berkembang secara spontan. Dalam pendidikan Montessori anak-anak diarahkan untuk mengamati dan memahami aturan dasar kesopanan dengan tidak mengganggu orang lain.
- Kebebasan untuk tumbuh; dalam pendidikan Montessori anak memiliki kebebasan untuk tumbuh dan membangun kemampuan mental mereka dalam lingkungan yang dirancang. Semua benda atau alat bermain dalam kelas Montessori diranncang untuk membantu mereka tumbuh kembang secara alami.
- Bebas untuk menyayangi dan disayangi; anak memiliki hak untuk disayangi dan menyayangi tanpa pandang bulu (pilih kasih). Jika mereka merasa diperhatikan sama dengan yang lain, dimana guru tanpa ada pilih kasih, maka mereka akan menghargai orang lain dan lingkungannya dengan cara yang sama.
- Bebas dari bahaya; anak memiliki hak untuk tumbuh dari bahaya. Maksudnya, anak diberikan pengetahuan melalui pelatihan yang sistematis tentang keterampilan hidup seperti bagai mana membawa barang mainan dengan cara yang benar yang jika tidak maka akan membahayakan dirinya.
- Bebas dari persaingan; Agar tidak mengganggu kebebasan anak untuk memilih, maka tidak ada kompetisi, reward atau hukuman dalam pendidikan Montessori. Keberhasilan anak tidak dinilai menurut sudut pandang orang dewasa, seperti melalui nilai, atau perolehan tanda bintang. Motivasi instrinsik merekalah yang mendorong mereka untuk melakukan aktifitas terbaik mereka, bukan reward atau hukuman. Kepuasan mereka karena tela dapat melakukan sesuatu sudah cukup sebagai reward bagi mereka sendiri.
- Bebas dari tekanan; anak diberikan kebebasan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kecepatan dan perkembangan mereka sendiri. Mereka tidak diharuskan dapat mencapai sesuatu yang disamakan dengan orang lain.
Melalui kebebasan-kebebasan dalam kelas Montessori seperti dijelaskan di atas, maka anak akan memperoleh kesempatan-kesempatan unik terhadap tindakannya sendiri. Mereka akan menyadari segala konsekuensi atas apa yang ia lakukan baik terhadap dirinya maupun orang lain, mereka belajar membuktikan atau menguji dirinya terhadap batasan-batasan realistiss, mereka akan belajar tentang apa saja yang membuat ia atau orang lain merasa puas atau sebaliknya merasa kosong dan tidak puas atau kecewa. Peluang untuk mengembangkan pengetahuan diri (self-knowledge) inilah yang merupakan hasil penting dari kebebasan yang kita ciptakan dalam kelas Montessori.
ASPEK 2: STRUKTUR DAN KETERATURAN (STRUCTURE AND ORDER)
Struktur dan keteraturan alam semesta harus tercermin dalam lingkungan kelas Montessori. Dengan demikian anak akan menginternalisasinya dan akhirnya membangun mental dan inteligensinya sendiri terhadap lingkungan. Melalui keteraturan anak akan belajar untuk percaya pada lingkungan dan belajar untuk berinteraksi dengan lingkungan dengan cara yang positif. Hanya dalam lingkungan yang dirancang dengan tepat dan benar, anak dapat mengkategorisasikan persepsinya yang pada akhirnya nanti akan membentuk pemahaman mereka yang benar terhadap realistis dunia.
Melalui keteraturan, anak tahu kemana harus mencari barang mainan yang ia inginkan, misalnya. Oleh karena itu, kita harus merancang penempatan barang mainan sesuai dengan klasifikasi berdasarkan keteraturan tertentu. Sebagai contoh, alat bermain ditempatkan dalam rak yang rendah sehingga terjangkau anak, ditata dengan rapi dan teratur sesuai dengan kategori, begitu pula halnya dengan ruangan kelass tertata sedemikian rupa dengan penuh keteraturan. (John Chattin – McNichols (1998), The Montessori Controversy, (New York: Delmar Publiser Inc.), hal 51)
ASPEK 3: REALISTIS DAN ALAMI
Lingkungan pendidikan Montessori didasarkan atas prinsip realistis dan kealamian. Anak harus memiliki kesempatan untuk menginternalisasikan keterbatasan alam dan realistis supaya mereka terbebas dari sikap berangan-angan (fantasy) atau ilusi baik yang bersifat fisik maupun psikologis. Hanya dengan cara ini mereka mengembangkan disiplin diri dan keamanan yang dia perlukan untuk menggali dunia eksternal dan internal mereka dan untuk menjadikan mereka pengamat realistiss hidup yang aktif dan apresiatif. Alat bermain dan lingkungan dalam kelas Montessori didasarkan atas konsep realistis. Sebagai contoh, anak dihadapkan dengan telepon yang sebenarnya, gelas sebenarnya, setrika, pisau dan lain-lain. Semuanya adalah benda sebenarnya.
Menurut Montessori, ”Manusia adalah miliki alam, begitu pula khususnya bagi anak. Mereka membutuhkan gambaran dunia yang akan mereka hadapi kelak melalui alam. Semua hal yang dipelrukan untuk mengembangkan jiwa dan raga mereka adalah alam sebenarnya.” Jadi, dalam konsep pendidikan Montessori, segala sesuatunya harus dirancang sedemikian rupa agar sealami dan serealistis mungkin, baik lingkungan indoor mapun outdoor. Montessori percaya bahwa anak harus pertama kali dihadapkan dengan alam melalui perawatan terhadap tanaman dan binatang.
ASPEK 4: KEINDAHAN DAN NUANSA
Lingkungan Montessori harus sederhana. Semua yang ada didalamnya harus memiliki desain dan kualitas yang baik. Tema warna harus menunjukkan kegembiraan. Nuansa ruangan harus terkesan santai dan hangat sehingga mengundang anak untuk bebas berpartisipasi aktif.
ASPEK 5: ALAT BERMAIN MONTESSORI (MONTESSORI MATERIALS)
Yang dimaksud dengan Montessori Materials di sini adalah bukan semata-mata alat bermain. Tapi semua benda yang ada dalam lingkungan. Tujuan dari semua benda itu bukan bersifat eksternal untuk mengajar anak keterampilan. Tapi tujuan utamanya adalah bersifat internal yaitu membantu perkembangan fisik dan pembangunan diri anak. Montessori mengatakan, ”Hal penting pertama perkembangan anak adalah konsentrasi … Ia harus menemukan cara bagaimana berkonsentrasi, dan oleh karenanya mereka membutuhkan benda-benda yang dapat membuatnya berkonsentrasi… karena itulah pentingnya sekolah kita mendasarkan pada hal ini. Yaitu tempat dimana mereka dapat menemukan aktifitas yang memungkinkan mereka melakukan konsentrasi.”
Benda-benda atau alat-alat bermain harus membantu pembentukan internal anak. Oleh karenanya benda atau alat bermain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan internal anak. Artinya, benda-benda dan atau alat-alat bermain tersebut haris disajikan atau diberikan pada momen yang sesuai dengan perkembangan mereka. Montessori menyebutkan beberapa prinsip dalam penggunaan benda dan atau alat bermain dalam kelas Montessori sebagai berikut:
o Setiap benda atau alat bermain harus memiliki tujuan dan bermakna bagi anak;
o Setiap benda atau alat bermain harus harus menunjukkan perkembangan dari sederhana ke rumit dalam desain dan penggunaannya.
o Setiap benda atau alat bermain dirancang untuk menyiapkan anak secara tidak langsung untuk belajar ke depan.
o Setiap benda atau alat bermain dimulai dari expesi kongkrit dan secara bertahap mengarahkan mereka pada representasi yang lebih abstrak.
o Setiap benda atau alat bermain dirancang agar memungkinkan terjadinya auto-edukasi. Artinya kontrol kesalahan berada pada benda tersebut bukan pada guru. Kontrol kesalahan ini akan membimbing anak dalam menggunakan benda tersebut dan memungkinkan ia menyadari kesalahannya sendiri dan memperbaikinya.
KESIMPULAN
Ada beberapa aspek penting yang harus dipahami betul oleh guru atau pendidik dalam metode pendidikan Montessori. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:
o Konsep kebebasan; melalui kebebasan-kebebasan dalam kelas Montessori, maka anak akan memperoleh kesempatan-kesempatan unik terhadap tindakannya sendiri. Mereka akan menyadari segala konsekuensi atas apa yang ia lakukan baik terhadap dirinya maupun orang lain, mereka belajar membuktikan atau menguji dirinya terhadap batasan-batasan realistiss, mereka akan belajar tentang apa saja yang membuat ia atau orang lain merasa puas atau sebaliknya merasa kosong dan tidak puas atau kecewa. Peluang untuk mengembangkan pengetahuan diri (self-knowledge) inilah yang merupakan hasil penting dari kebebasan yang kita ciptakan dalam kelas Montessori.
o Struktur dan Keteraturan; hanya dalam lingkungan yang dirancang dengan tepat dan benar, yaitu terstruktur dan teratur, anak dapat mengkategorisasikan persepsinya yang pada akhirnya nanti akan membentuk pemahaman mereka yang benar terhadap realistis dunia.
o Realistis dan Alami; dalam konsep pendidikan Montessori, segala sesuatunya harus dirancang sedemikian rupa agar sealami dan serealistis mungkin, baik lingkungan indoor mapun outdoor. Dengan cara ini mereka mengembangkan disiplin diri dan keamanan yang dia perlukan untuk menggali dunia eksternal dan internal mereka dan untuk menjadikan mereka pengamat realistiss hidup yang aktif dan apresiatif.
o Keindahan dan Nuansa; unsur-unsur keindahan, keceriaan, baik secara fisik maupun non fisik dalam lingkungan kelas Montessor sangat penting untuk mengundang anak berpartisipasi aktif dengan bebas dan spontan.
o Benda atau Alat Bermain Montessori; harus membantu pembentukan internal anak. Oleh karenanya benda atau alat bermain tersebut harus sesuai dengan kebutuhan internal anak. Artinya, benda-benda dan atau alat-alat bermain tersebut haris disajikan atau diberikan pada momen yang sesuai dengan perkembangan mereka.
Referensi:
- Course Manual, Diploma in Montessori Method of Education (Birth to Six Years of Age).
- David Gettman (1987), “Basic Montessori: Learning Activities for Under-Fives” (New York: St. Martin’ Press), hal 30.
- John Chattin – McNichols (1998), The Montessori Controversy, (New York: Delmar Publiser Inc.), hal 51. [...]
Posted in Education, Montessori Method by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this postComparing Montessori and "Traditional" Education
Thursday, May 29, 2008
Traditional Class
- Textbook, pencil and paper, worksheets and dittos; few materials for sensory, concrete manipulation
- Working and learning without emphasis on social development
- Narrow, unit-driven curriculum
- Individual subjects
- Learning is reinforced externally by rewards and discouragements
- Block time, period lessons
- Assigned seats and specific class periods
- Single-graded classrooms; all one age
- Most teaching done by teacher and collaboration is discouraged
- Students passive, quiet, in desks
- Individual and group instruction conforms to the adult's teaching style
- Students fit mold of school
- Students leave for special help
- Little emphasis on instruction on classroom maintenance
- Product-focused report cards
- Teacher's role is dominant and active; child is a passive participant; teacher-motivated
- Environment and method encourage internal self-discipline
Montessori Environment
- Prepared kinestetic materials with incorporated control of error, specially developed reference materials - multi-sensory materials for physical exploration development
- Working and learning matched to the social development of the child
- Unified, internationally developed curriculum
- Integrated subjects and learning based on developmental psychology
- Learning is reinforced internally through child's own repetition of activity, internal feelings of success
- Uninterrupted work cycles
- Freedom to move and work within classroom
- Multi-age classrooms - three year span
- Children encouraged to teach, collaborate, and help each other
- Students active, talking, with periods of spontaneous quiet, freedom to move
- Individual and group instruction adapts to each student's learning style
- School meets needs of students
- Special help comes to students
- Organized program for learning care of self and self-care environment
- Process-focused assessment, skills checklists, mastery benchmarks
- Teacher's role is unobtrusive; child actively participates in learning; motivated by self-development
- Teacher is primary enforcer of external discipline
Source:
North American Montessori Teachers' Association, The Essential Montessori (by Elizabeth G. Hainstock and A Child's Place Montessori Schools
[...]Posted in Education, Montessori Method, Parenting by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this postSome Highlights in The Life of Dr Maria Montessori
Monday, April 28, 2008
1896 Became the first woman to receive her doctorate in medicine, University of Rome.
1898 Director of the Orthophrenic Institue, Rome.
1904 Lecturer in Anthropology, University of Rome.
1907 Opening og the first Casa dei Bambini in San Lorenzo.
1909 Publication of "The Montessori Method".
1911 Opening at the first Montessori school in the United States. Articles in "McClure's Magazine", United States.
1913 Model Montessori classroom set up in London. Montessori's first trip to the United States. First Montessori school established in Spain.
1914 Publication of "Dr Montessori's Own Handbook". Second International Montessori Congress, Rome. Opening of first Casa dei Bambini, Holland.
1915 Third International Training Course, San Francisco. Second trip to the United States. Model Classroom at San Francisco Exposition.
1916 Publication ot "The Advance Montessori Method".
1917 Lecture to Pedagogical Society of Amsterdam.
1919 First International Training Course, London.
1920 Lectures at the University of Amsterdam.
1922 Lecture in Berlin.
1024 International Training Course, Amsterdam.
1926 Speaker at League of Nations, Geneve. Lectures in Berlin, Formation of Montessori Society, India. Private audience with Musollini. Made honorary member of the Fascist Women's Organization.
1927 Montessori Society of Argentine. Establishment of Training School, Rome. Travels to England.
1928 First International Congress, Denmark. Founding of Associations Montessori International (A.M.I).
1929 Formation of A.M.I. branch, England.
1932 Second International Montessori Congress, Nice. Publication of “Peace in Education”.
1933 International course, Barcelona.
1934 Montessori Congress, Ireland. Formation of Montessori Society, Ireland.
1935 The Montessori method was forbidden in German.
1936 Publication of “The Child in the Family” and “The Secret of Childhood”. Amsterdam became A.M.I. Headquarters. Montessori established her home in Laren, Holand. Fifth Montessori Congress, Oxford.
1937 Left Spain. Sixth International Montessori Congress, Copenhagen.
1938 Seventh International Montessori Congress, Edinburgh.
1939 Speech to World Fellowship of Faith. Montessori went to India to establish a training centre in India.
1945 First All-India Montessori Congress, Jaipur.
1946 Returns to Holland from India. Courses in London and Scotland. Publication of “Education for a New World”.
1947 Reestablishment of Opera Montessori, Italy. Celebration of 40th anniversary of Casa dei Bambini. Establishment of Montessori Centre, London. Return to India.
1948 Publication of “Discovery of Child”, “To Educate the Human Potential”, and “What You Should Know About Your Child”.
1949 Receives Cross of the Legion of Honour, France. Eighth International Congress, San Remo. In Pakistan to find a Montessori Association. Publication of “The Absorbent Mind”.
1950 Nominated for Nobel Peace Prize. Delegate to UNESCO Conference, Florence Publication of "The Formation of Man".
1951 Ninth International Montessori Congress, London.
1952 Maria Montessori dies, May 6th, 1952 of a Cerebral hemorrhage.
Source:
The Essential Montessori: An Introduction to the Woman, the Writtings, the Method, and the Movement by Elizabeth G. Hainstock [...]
Posted in Education, Maria Montessori, Parenting by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this postWho Is Dr Maria Montessori?
Friday, April 25, 2008
Dr Maria Montessori was the founder of the Montessori method of Education. She was born in the Italian town of Chiaravalle in 1870, where she spent her early childhood years. She moved to Rome at age three and grew up in an environment dominated by academic achievement. She studied mathematics and engineering at a technical school and went to the University of Rome where she became the first woman doctor in her country's history.
Montessori launched her medical career at the State Orthophrenic School in Rome where she worked with rejected children. Her success in helping them learn as well as their regular-school peers convinced her to leave her medical profession and focus on education. To learn the functions of human thought, she returned to her university to study philosophy and anthropology and later headed the department of Pedagogic Anthropology. She was one of the most influential pioneers in early childhood education. She devised a method of education, which combines a philosophy with practical approach based on the central idea of freedom for the child within a carefully planned and structured environment.
The great pioneering achievement of Dr Maria Montessori was to recognise the crucial importance of a child in their first six years of development. It is during this time that a child powers of absorption are highest and lifelong attitudes and patters of learning are firmly formed. It is for the sensitive period that the Montessori system of education was most uniquely and effectively designed.
Her success was so great that she travelled the world establishing schools and lecturing about her discoveries. Dr. Montessori's books have been translated into twenty-two languages and are readily available. Her method has become a part of every teacher-training course.
Dr. Maria Montessori left the world a wonderful legacy: a philosophy of life, a unique method of education, which gives children the best possible foundation for life.
Montessori died in Holland in 1952, just before her 82nd birthday. Her work lives on today in education systems around the world. Besides new books, lectures, and teacher-training programmes, societies and schools are still springing up under her name in the United States, in Europe, and in Asia.
[...]
Montessori launched her medical career at the State Orthophrenic School in Rome where she worked with rejected children. Her success in helping them learn as well as their regular-school peers convinced her to leave her medical profession and focus on education. To learn the functions of human thought, she returned to her university to study philosophy and anthropology and later headed the department of Pedagogic Anthropology. She was one of the most influential pioneers in early childhood education. She devised a method of education, which combines a philosophy with practical approach based on the central idea of freedom for the child within a carefully planned and structured environment.
The great pioneering achievement of Dr Maria Montessori was to recognise the crucial importance of a child in their first six years of development. It is during this time that a child powers of absorption are highest and lifelong attitudes and patters of learning are firmly formed. It is for the sensitive period that the Montessori system of education was most uniquely and effectively designed.
Her success was so great that she travelled the world establishing schools and lecturing about her discoveries. Dr. Montessori's books have been translated into twenty-two languages and are readily available. Her method has become a part of every teacher-training course.
Dr. Maria Montessori left the world a wonderful legacy: a philosophy of life, a unique method of education, which gives children the best possible foundation for life.
Montessori died in Holland in 1952, just before her 82nd birthday. Her work lives on today in education systems around the world. Besides new books, lectures, and teacher-training programmes, societies and schools are still springing up under her name in the United States, in Europe, and in Asia.
Posted in Education, Maria Montessori, Parenting by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this postMontessori
Thursday, April 24, 2008
Montessori is one approach for education which represents the work of Dr. Maria Montessori that now identify the term with he work in education. It is a revolutionary education system based on external natural laws:
"A new education from birth onward must be built up. Education must be reconstructed and based on the laws of nature and not on the preconceived notions and prejudices of adult society."
The Formation of Man (p.97)
The name Montessori is not legally protected, and can be used by anyone, for any purpose; it is vital that anyone searching for a good Montessori school or teacher-training center be aware of this. Most of the Montessori sites on the Internet today exists to advertise one particular Montessori organization, school, or training center. The International Montessori Index was created to provide detailed comparative information in order to help in the search for a school or training center. Details are given to aid parents in looking for a school that follows Dr. Montessori's teachings, and all Montessori training centers and organizations who are official members of The International Montessori Index share their specifics details for comparison with others. Those listed on this site have welcomed the opportunity to make themselves available in this way.
Montessori is not a system for training children in academic studies; nor is it a label to be put on educational materials. It is a revolutionary method of observing and supporting the natural development of children. Montessori educational practice helps children develop creativity, problem solving, critical thinking and time-management skills, to contribute to society and the environment, and to become fulfilled persons in their particular time and place on Earth. The basis of Montessori practice in the classroom is respected individual choice of research and work, and uninterrupted concentration rather than group lessons led by an adult. Group lessons are seldom found in a Montessori classroom, but learning abounds. As you read through these pages you will discover the unique practices that make Montessori the fastest growing and most successful method of education today.
[...]
Montessori is not a system for training children in academic studies; nor is it a label to be put on educational materials. It is a revolutionary method of observing and supporting the natural development of children. Montessori educational practice helps children develop creativity, problem solving, critical thinking and time-management skills, to contribute to society and the environment, and to become fulfilled persons in their particular time and place on Earth. The basis of Montessori practice in the classroom is respected individual choice of research and work, and uninterrupted concentration rather than group lessons led by an adult. Group lessons are seldom found in a Montessori classroom, but learning abounds. As you read through these pages you will discover the unique practices that make Montessori the fastest growing and most successful method of education today.
Posted in Education, Maria Montessori, Parenting by My Princess Amanda - Adinda | 0 komentar
Email this post
Subscribe to:
Posts (Atom)

